Rabu, 02 Juni 2010

Perdamaian (Sejati)

“Manusia secara ilmiah, hanya ada perdamaian dalam dirinya. Pertikaian hanyalah sebuah bentuk awal dari khayalan yang menjadi kenyataan karena suara mayoritas”. (Karl Marx)


Ketika Socrates mengartikan lain kata “Demokrasi” (sama ‘sakralnya’ dengan ‘Revolusi’) dari orang-orang di selilingnya, ia dianggap orang “sesat”. Orang-orang sesat harus diasingkan – bahkan dibunuh – dari kehidupan masyarakat saat itu. Namun Socrates memilih dihukum melalui tata cara pengadilan, dengan menenggak racun. Ia menganggap ini bukanlah akhir dalam hidupnya, melainkan sebuah “pintu masuk” menuju kehidupan yang lebih sejati. Plato, salah seorang muridnya yang menghadiri peradilan itu, melihat tatapan yang dilemparkan oleh gurunya itu, pertanda bahwa kesedihan tidak akan pernah bisa beriringan dengan kebijakansanaan, tapi hanya berjalan dengan kemunafikan.
Saya bukan seorang yang “Hafal” betul dinamisasi kehidupan para filsuf – termasuk Barat dan Timur. Tapi, apa yang mereka (seolah-olah) perjuangkan, membuat saya terdiam dan menanyakan pada diri ini – mungkin – arti kehidupan. Tiga elemen utama dalam dialektis kehidupan – hanya sebagiannya – ternyata banyak yang menganggap ini adalah sebuah benturan besar yang tak’kan mungkin satu. Percaya atau tidak percaya, “homo homini lupus” yang dilontarkan Thomas Hobbes mengantarkan asap dunia menuju – kalau dalam istilah agama Islam – kemunkaran, sebagai buah dari pertikaian yang menjadi “khas” kehidupan “manusia”. Entah kata apa yang tepat menggambarkan secara real istilah yang diberikan Hobbes.
Perdamaian, saya menafsirkan ini adalah sebuah kalimat “akibat”, dimana hanya sesuatu sebablah yang melahirkan kalimat serta implementasiannya. Sebenarnya berat memang, untuk saya berkata “perdamaian” sebuah kalimat “akibat”. Saya bukan seorang yang mencintai pertikaian, sekalipun sebuah syarat mendapat perdamaian. Sedikit saya mengulas “perdamaian” ini, secara sudut pandang filosofis, pertikaian yang menjadi penyebab suatu perdamaian, adalah ciri khas manusia yang belum mengenal norma dan nilai kehidupan bermasyarakat. Jika dari sudut pandang agamis, ini semua bukanlah suatu jalan menuju perdamaian, melainkan “kematian”. Entah kematian yang seperti apa.
Berbeda halnya dengan para ilmuwan yang menyebutkan ini semua pertanda bahwa dunia akan hancur karena kondisi iklim dunia yang sudah tidak bersahabat, dikaji dari segi apapun. Jika demikian keadaannya yang tergambar secara mayoritas di tengah-tengah kehidupan ini, maka bukan perdamaian yang akan lahir dari sebuah pertikaian, dan istilah yang disebutkan oleh Hobbes sama sekali tidak ada makna yang menjelaskan secara komprehensif. Terbukti dari keadaan pasca – saya menyebutnya kehidupan rimba – tidak akan muncul perdamaian, melainkan kekuasaan “biadab” yang dibungkus rapi oleh perdamaian.
Karl Marx, seorang tokoh Sosialis-Komunis mengkritisi apa yang telah diungkapkan Hobbes. Ia menilai kekerasan itu lahir dari kebudayaan manusia dalam lingkungan ia hidup. Sesungguhnya, manusia tidak dapat hidup dalan keterasingan. Namun, entah mengapa – menurut Marx – justru malah manusia itu sendiri yang membiarkan dirinya jatuh dalam kubangan keterasingan dari hal-hal luar dirinya. Marx mengambil contoh kasus ini, dalam hal pekerjaan. Manusia saat ini bahkan, puluhan hingga ratusan tahun lalu, menganggap sebuah pekerjaan itu sebagai “urat nadi” kehidupannya. Seolah, ketika si manusia tersebut kehilangan pekerjaannya, manusia ini cenderung mengalami depresiasi tinggi, bahkan, bukan tidak mungkin menjadi hilang akal. Manusia melakukan pekerjaan hanya karena ingin memperoleh sebuah uang logam (saat ini telah berubah kertas).
Pressure yang ditimbulkan oleh pekerjaannya itu, pada dirinya sendiri, sudah tentu sebuah beban yang jika ditinggalkan ‘sesaat’ menjadi sebuah anugerah yang tak terhingga. Realita ini menggambarkan, manusia melakukan pekerjaan bukan lantaran ‘mencintai’ pekerjaan itu, melainkan hanya karena sebuah uang. Marx secara tak langsung, mengamini istilah ‘demokrasi’ yang diontarkan oleh Socrates.
Keadaan kurang cintanya manusia terhadap pekerjaan yang digelutinya itu, karena sistem ‘bangsa’ yang salah, bukan manusianya. Warganya akan sejahtera bila dalam hidupnya mencintai pekerjaannya tanpa tekanan dari pihak manapun. Dan yang lebih penting, pekerjaan itu sesuai dengan kemampuan dan keahlian dari si manusia tersebut. Sehingga, ketika ia jauh dari pekerjaan – terutama untuk sesaat – ia akan rindu untuk bekerja, bukan malah menjadi lepas bebannya. Begitupun ketika kehilangan pekerjaannnya, ia tidak akan khawatir, karena percaya akan kemampuannya. Perlu dipertimbangkan pula, negara pun telah menjamin lapangan pekerjaan yang memadai bagi warganya itu.
Berangkat dari pengertian-pengertian sebagaimana dijelaskan di atas tadi, pertikaian yang ‘katanya’ adalah sebuah sebab dari akibat yaitu perdamaian, bukan lagi menjadi hubungan yang signifikan diantara keduanya. Atau mungkin, perdamaian yang selama ini didambakan (hanya sebatas itu) oleh umat manusia kebanyakkannya, adalah perdamaian sejati. Ya, memang masih ada kata ‘Perdamaian’ nya. Tapi kata ‘sejati’ menandakan, hanya kematian yang bisa mendamaikan umat manusia. Silahkan anda kaji dari perspektif manapun yang anda yakini bijak. Ingat, bijak. Bukan benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar