Deruan suara mahasiswa itu terdengar melengking di telinga ku. Bukan, itu bukan teriakan prestasi apalagi euphoria mahasiswa atas kemenangan yang telah diraihnya. Namun, itu teriakan menentang terselenggaranya suatu program kerja. Entah apa yang tengah mereka ributkan, wahai kaum intelektual bangsa.
“Aku yakin, dengan aku mengkuliahkan anakku maka aku akan merasakan kesuksesan darinya,” ujar seorang ibu dengan penuh pengharapan. Sangat mulia keinginan seorang ibu agar seorang anaknya dapat sukses setelah menyelesaikan kuliahnya.
“Ah….., itu kan hanya pengharapan, bukan kenyataan. Sebuah pendidikan memang tujuan utama ku dalam bangku kuliah, namun di sisi lain ada yang jauh lebih penting yang menuntutku untuk terus berpartisipasi, yaitu organisasi yang sarat dengan pembelaan hak teman-teman mahasiswa,” ujar seorang anak. Aku harus bisa, aku pasti bisa, memperjuangkan hak teman-teman mahasiswa dan rakyat Indonesia demi kesejahteraan bangsa ini. Tapi, apakah teman-teman yang selama ini haknya ku perjuangkan dapat menghargaiku sebagai seorang “pejuang” mahasiswa?. Harus ku perhitungkan.
Naluriku sangat ingin sekali belajar dengan tenang dan menjaga amanah sebagaimana yang telah diberikan orangtua ku. Tapi, naluri kepemimpinan ku juga tak dapat ku elakkan. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku pernah menggoreskan sebuah sejarah “indah” dalam memperjuangkan hak mahasiswa. Hanya itu.
Berdialektika adalah makanan sehari-hari ku ketika suatu masalah menghampiri kampus tercinta ini. Ingin sekali aku menyalahkan pihak “atas” demi kepentingan teman-temanku. Tapi, apakah tindakan ini semata hanya menyalahkan pihak “di atas” sana?. Meskipun kesalahan sebenarnya bersumber dari teman-teman ku?. Aku tidak mau menjadi PENGECUT, seperti para pengurus negara yang hanya bisa mengkerdilkan orang-orang “bawah”. Kebenaran harus berpihak pada orang-orang yang memang BENAR, dan sebaliknya.
Ibu, pesan mu akan terus ku dengar selama aku menginjakkan kaki ku ini di bangku kuliah. Namun, maafkan aku ibu, aku melanggar amanahmu hanya sekejap saja, dan ini untuk kepentingan rakyat, bukan semata eksistensitas egosentris. Aku ingin semua sejahtera ibu, aku harus bisa “menyenangkan” semua orang.
“Dasar anak bodoh, kamu tidak akan mampu untuk membuat ‘rakyat-rakyat’ di sini sejahtera,” ujar seorang penguasa menyelak percakapan keduanya. Aku yang akan terus memobilisasi teman-teman mu. Teman-teman mu itu, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak perduli dengan keadaan kampus mu ini. Teman-teman mu hanya memprioritaskan ilmu mereka masing-masing untuk belajar di bangku kuliah ini dari pada memikirkan kesejahteraan orang-orang banyak. Ini bukan jaman perjuangan, Bung!! Ini bukan masa-masa reformasi. Ini adalah masa mahasiswa kembali menaati peraturan yang kami beri, tanpa harus kritis dengan semua itu.
Penguasa itupun tertawa lepas melihat para mahasiswa kembali kebarisan, yang sesungguhnya barisan itu adalah “racun” untuk membungkam mulut dan membutakan mata hati dari segala bentuk penindasan-penindasan yang terjadi.
Rabu, 02 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar