Mengapa setiap sebab harus ada akibat? Mengapa setiap langkah harus ada tujuan? Mengapa setiap hidup harus ada sebuah arti? Namun, mengapa kebahagiaan tidak bisa seiring dengan penderitaan? Selalu saja penderitaan termarjinalkan oleh kebahagiaan dan kebahagiaan terus menampilkan eksistensinya demi mendapat sebuah pamor tinggi.
Apakah ini termasuk bentuk dari ketidakadilan? Tapi mengapa justru ketidakadilan terus menjamur sementara keadilan itu sendiri sesuatu abstrak yang sukar kita dapatkan. Terkadang hidup ini penuh dengan segala macam cobaan dan rintangan. Akan tetapi, itu semua bukanlah satu alasan untuk manusia hidup bermalas-malasan tanpa ada usaha apapun dengan alibi kalau melakukan sesuatu pasti akan bertemu dengan sebuah bahkan bermacam-macam masalah. “Tuhan tidak akan menurunkan cobaan di luar kemampuan umatnya itu sendiri.” Kalimat tersebut sering kita baca, dengar, bahkan ketika kita diberi wejangan oleh orang tua kita. Manusia tahu, apa sesuatu yang telah mereka temui, baik dalam bentuk abstrak ataupun konkret.
Namun mengapa mereka berpura-pura untuk tidak mengetahuinya dengan kata lain masa bodo dengan apa yang mereka telah ketahui. Jika telah terjadi sesuatu pada manusia tersebut, cenderung manusia menyalahkan, bahwa Tuhan lah yang salah, karena menurunkan cobaan yang begitu berat. Padahal, sebelumnya manusia itu sendiri sudah diperingatkan akan cobaan yang akan diturunkan tersebut. Terlalu naif jika manusia menganggap cobaan hidup ini tidak dapat diselesaikannya. Karena, setiap permasalahan pasti akan selalu ada jalan keluarnya. Namun, bagaimana jika permasalahan itu sendiri dibuat karena ulah manusia itu sendiri.
Seperti contoh kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang tidak kunjung ditemukan ‘akar’ untuk diberantas agar tidak terjadi lagi di negeri ini. Perjuangan para pahlawan Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan diracuni dengan mudahnya oleh pejabat-pejabat negara yang notabene orang-orang yang mengurusi negara ini agar ke depannya menjadi lebih baik. Alih-alih menjadi lebih baik, malah menjadi negara kaya akan koruptor. Tengok pemerintahan masa orde baru (orba), segala harga sembako untuk pemenuhan kehidupan sehari-harinya memanglah murah. Namun, tidak disangka, itu semua adalah hasil pinjaman Indonesia kepada negara-negara lain yang memang dengan legowo meminjamkan dananya dan kemudian menjadi hutang-piutang negara.
Di sini, kembali rakyat menderita ditengah krisis keuangan yang melanda bangsa ini. Tidak ada solusi ataupun jalan keluar dari permasalahan yang semakin ‘berkarat‘ ini. Sampai detik ini pun, bangsa ini belum berhasil membuat mayoritas rakyatnya sejahtera. Angka pengangguran di Jakarta khususnya semakin meningkat. Sementara pemenuhan kebutuhan hidup semakin ‘mencekik.’
Akankah negara yang syarat selalu menjunjung tinggi nilai Hak Asasi Manusia (HAM) ini terlepas dari jeratan masalah rutinitas tersebut? Berganti-ganti pemimpin pun telah dilalui negara ini. Tapi mengapa permasalahan negeri ini seolah ‘kutukan’ Tuhan yang memang Tuhan jualah yang bisa menyelesaikan masalah ini. Negara ini harus bangkit. Negara ini tidak boleh mengecilkan lagi apa yang justru menjadi kebanggaan yang dimilikinya. Peran serta masyarakat dan mahasiswa khususnya menjadi ujung tombak dari penyelesaian masalah ini. Kebersamaan tanpa membawa bendera masing-masing perlu ditumbuhkembangkan dewasa ini, kemudian, dan akan datang.
Rabu, 02 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar